seputar musick indonesia
Komunitas Pe[n]cinta Musik Indonesia (KPMI) peduli akan nasib
musik Tanah Air dan berupaya menyelamatkan serta melestarikan
album-album lawas agar nantinya dapat dinikmati oleh tunas bangsa.
Malam itu, suasana Langzat Corner, Blok M, Jakarta Selatan, seperti
pasar loak. Sebab, di tengah sekelompok orang yang tampak sibuk
berdiskusi, di atas meja tersebar kumpulan kaset dan piringan hitam.
Itulah salah satu aktivitas KPMI. Mereka kerap mengadakan diskusi dan
jumpa anggota, mendengarkan dan mengapresiasi musik bersama, juga
membuat katalog musik Indonesia versi KPMI, serta merilis ulang
album-album jadul, seperti album dari grup band Freedom of Rhapsodia,
Golden Wing (band asal Palembang), dan Superkid yang pernah hits pada
era 70-an. Untuk saat ini, sudah ada 20-an album lawas yang dirilis
ulang.
“Jujur saja, saya merasa sedih mencari (lagu-lagu) bandband lama di
loakan sebab kalau di luar negeri di malmal,” gumam Hardi Surya Bakti
(51), anggota KPMI yang juga produser Bravo Musik sekaligus partner KPMI
dalam mengatalogkan album-album lawas. “Motivasi saya tak lain, hanya
ingin mendokumentasikan,” kata Hardi yang mengaku sedih apabila
band-band lama tidak diapresiasi.
Para anggota KPMI juga mengumpulkan poster dan majalah yang merekam perkembangan musik tempo dulu. “Ada majalah Aktuil terbitan Bandung yang terkenal
pada awal 60 sampai 70-an, majalah Midi, majalah Selekta yang populer
pada akhir 70-an, serta majalah Pop yang waktu itu masih banyak mengulas
perkembangan belantika musik Indonesia,” tutur Didik Susanto, pendiri
sekaligus Ketua KPMI.
Beberapa kaset dan piringan hitam yang mereka tunjukkan, antara lain
album Guruh Gipsy (1976), Andy & Tielman Brothers, Dara Puspita, dan
Sitompul Sisters, walaupun sampul kasetnya sudah pudar. KPMI adalah
wadah berkumpulnya para penikmat berbagai jenis musik Indonesia—dari
aliran pop, jazz, rock, keroncong, hingga dangdut. Meskipun begitu, pada
umumnya hampir semua anggota tidak mengotak-kotakkan jenis musik aliran
apa pun.
Dari hasil pertemuan-pertemuan anggota, komunitas ini telah
melahirkan dua buku yang berisi tentang perjalanan panjang musik di
Tanah Air. Salah satu buku berjudul Musisiku dinilai sangat berarti bagi
pengetahuan musik di Tanah Air. (WI/Bambang Triyono)